Pages

Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 November 2009

Sayap yang Kerdil

Ini adalah kisah yang dialami oleh sebuah keluarga burung. Si induk menetaskan beberapa telor menjadi burung-burung kecil yang indah dan sehat. Si induk pun sangat bahagia dan merawat mereka semua dengan penuh kasih sayang.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Burung-burung kecil inipun mulai dapat bergerak lincah. Mereka mulai belajar mengepakkan sayap, mencari-cari makanan untuk kemudian mematuknya.

Dari beberapa anak burung ini tampaklah seekor burung kecil yang berbeda dengan saudaranya yang lain. Ia tampak pendiam dan tidak selincah saudara-saudaranya. Ketika saudara-saudaranya belajar terbang, ia memilih diam di sarang daripada lelah dan terjatuh, ketika saudara-saudaranya berkejaran mencari makan, ia memilih diam dan menantikan belas kasihan saudaranya. Demikian hal ini terjadi seterusnya.
Saat sang induk mulai menjadi tua dan tak sanggup lagi berjuang untuk menghidupi anak-anaknya, si anak burung ini mulai merasa sedih. Seringkali ia melihat dari bawah saudara-saudaranya terbang tinggi di langit. Ketika saudara-saudarnya dengan lincah berpindah dari dahan satu ke dahan yang lain di pohon yang tinggi, ia harus puas hanya dengan berada di satu dahan yang rendah. Ia pun merasa sangat sedih.
Dalam kesedihannya, ia menemui induknya yang sudah tua dan berkata, “Ibu, aku merasa sangat sedih, mengapa aku tidak bisa terbang setinggi saudara-saudaraku yang lain, mengapa akau tidak bisa melompat-lompat di dahan yang tinggi aku hanya bisa berdiam di dahan yang rendah?”
Si induk pun merasa sedih dan dengan air mata ia berkata, “Anakku, engkau dilahirkan dengan sayap yang sempurna seperti saudaramu, tapi engkau memilih merangkak menjalani hidup ini sehingga sayapmu menjadi kerdil.”
Hidup adalah kumpulan dari setiap pilihan yang kita buat. Pilihan kita hari ini menentukan bagaimana hidup kita di masa depan.Kita memiliki kebebasan memilih tetapi setelah itu kita akan dikendalikan oleh pilihan kita, jadi berpikirlah sebelum berbuat, sadari setiap konsekuensi dari pilihan yang kita buat.
Semoga bermanfaat

Senin, 02 November 2009

Bocah Detektif Handal

Oleh Mike Clinson
Alih Bahasa Misran

Pada zaman dahulu, ada seorang istri yang kerjanya menipu suami dan dirinya sendiri, dengan cara menjalin hubungan mesra dengan laki-laki selain suaminya. Perempuan ini sangat menyukai laki-laki itu sampai-sampai mengundangnya tidur ke rumah. Tentu, di saat suaminya tidak ada dan tanpa sepengetahuan dia.
Hubungan ini berlanjut hingga lama. Setiap kali suaminya bepergian jauh, pacarnya datang ke rumah secara teratur. Perempuan itu juga menyiapkan makan malam yang enak untuk sang pacar: ayam bakar. Anaknya juga diajak makan bersama-sama.
Suatu kali, setelah suaminya lama tidak pergi-pergi, anak mereka mengeluh karena sudah lama tidak makan ayam. Ditujukan kepada papanya, sang anak bertanya: “Pa, kapan Papa pergi lagi? Kok sudah lama Papa belum pergi-pergi juga?”
“Kok kamu bertanya seperti itu?” Tanya papanya penuh heran.
“Ya, kalau Papa pergi kami bisa potong ayam dan menyantapnya saat makan malam.”
“Jadi kamu mau makan ayam?” Papanya bertanya seperti membuat kesimpulan.
“Iya, Pa, “ jawab anaknya, “tapi kalau Papa tidak pergi-pergi, nanti mama tidak mau potong ayam.”
“Lho, kok begitu?” Tanya papanya semakin heran.
“Mmm...Mama pasti tahu jawabannya,” jawab si bocah sekenanya.
Namun jawaban anak itu tidak ditanggapi serius oleh papanya. Meski demikian, keesokan harinya, si anak kembali mengajukan pertanyaan yang sama. Ia ingin makan ayam. Dari sinilah papanya mulai meraba-raba, di balik kata-kata anaknya pasti ada sebuah rahasia yang mesti ia singkap. Ia pun memutuskan untuk mencaritahu.
Pagi hari berikutnya, ia pun memberi tahu istrinya bahwa besok ia akan bepergian untuk dua hari. Mendengar berita itu, istrinya senang bukan main. Sebab, ia punya waktu lagi bertemu dengan selingkuhannya. Anak mereka pun ikut gembira, tetapi karena tahu akan makan ayam bakar buatan mamanya lagi, bersama tamu sang mama.

Pada waktu yang telah ditentukan, sang istri pun menyiapkan segala keperluan suaminya selama bepergian. Pada hari keberangkatan sang suami, isterinya dan anaknya menemaninya sampai jauh ke luar rumah. Kemudian sang isteri melambaikan tangan dan suaminya pun berangkat.
Dalam perjalanan sepulang mengantar itulah, perempuan itu lewat di depan rumah selingkuhannya. Ia memberitahukan kepergian suaminya sekaligus menyampaikan undangan makan malam. Pacarnya senang bukan main menyambut undangan itu dan berjanji akan datang, langsung setelah magrib.
Begitu sampai di rumah, perempuan itu menangkap seekor ayam dari kandang dan menyembelihnya. Dengan riang gembira ia lalu menyiapkan makan malam untuk kekasih tercinta. Malamnya, sang kekasih pun datang. Perempuan itu sudah menyiapkan satu jeriken air untuk pacarnya mandi karena setelah makan malam langsung, mereka akan segera naik ke tempat tidur.
Setelah selingkuhannya mandi, perempuan itu pun melakukan hal yang sama. Belum lama berselang dia masuk ke kamar mandi, suaminya datang dan memanggil-manggil di depan pintu: “Hudi, Hudi! Zuzu! Zuzu!” Namun tak terdengar ada sahutan. Bosan memanggil berulang-ulang dan tetap tidak ada sahutan, ia pun menerobos masuk. Tepat pada saat itulah, selingkuhan isterinya kelabakan dan takut bukan main sehingga bersembunyi di bawah ranjang. Hanya saja, si bocah melihatnya dan tertawa terpingkal-pingkal karenanya.
Selesai mandi (dan berhias), perempuan itu keluar dan menyambut suaminya. Ia pun menghidangkan makan malam untuk suami dan anaknya. Ketika makan, perempuan itu bercerita bahwa seekor musang masuk kandang, menangkap ayam mereka dan membunuhnya seekor. Namun, ia berhasil merebut kembali ayam itu. “Tenang, sayang...” Hanya kalimat pendek itulah yang keluar dari suaminya, dengan sikapnya yang amat tenang.
Beberapa saat kemudian, si bocah mengambil sepotong ayam, mengangkat seprai ranjang, lalu memberikannya kepada laki-laki yang sedang bersembunyi di bawah ranjang itu. Katanya berujar: “Hai Papaku yang kedua, lihat ... sekarang papa tidak bisa ikut makan.” Kemudian bocah itu tertawa dan kembali ke meja makan. Pada saat itu, mamanya menghardik. “Kamu hari ini kenapa? Kok tidak ikut makan sama-sama? Kamu tidak mau makan, ya? Ayo makan. Kalau tidak kamu akan mama letakkan di luar.”
Sementara sang suami tidak mengendus ketidakberesan itu. Tidak berapa lama kemudian, si bocah kembali mengulangi apa yang ia lakukan. Mamanya lalu menyuruhnya duduk di dekatnya agar bisa mengendalikan tingkah-polah si anak. Bahkan hingga saat itu pun sang suami belum juga mencium sesuatu yang tidak beres. Pada kali yang ketiga, si bocah melompat dari tangan ibunya lalu berlari ke bawah ranjang. Saat itulah sang suami naik pitam. Ia panggil anaknya: “Tutu…ngapa kamu di bawah ranjang itu? Sini!...teruskan makanmu.” Mamanya menarik anaknya dari bawah ranjang dan menendang si anak keluar rumah.
Bagaimanapun juga, selesai makan, si suami mengangkat seprai dan melihat ada apa di bawah ranjang. Ia pun melihat laki-laki yang bersembunyi itu sudah mandi keringat dan menggigil ketakutan. Ia melihat tidak percaya. Terkejut dan terpaku di tempatnya. Pada saat itulah laki-laki itu melompat dari bawah ranjang, menubruk suami perempuan itu hingga terjatuh ke lantai, dan segera kabur keluar. Sang suami sadar dari keterkejutannya tetapi tidak bertanya siapa laki-laki yang kabur itu dan dari mana ia datang.
Sang isteri pun menyadari kekeliruannya yang besar dan yakin bahwa suaminya akan menjatuhkan sanksi atas kesalahan ini. Namun, ternyata tidak. Perempuan itu menunggu dan menunggu. Sang suami tetap tidak bertanya atau pun menjatuhkan sanksi apa-apa. Perempuan itu pun heran terhadap sikap suaminya dan bertanya, apa yang ada di dalam pikiran lelaki itu?
Seminggu setelah kejadian, sang istri pun mengumpulkan segala barang miliknya dan bersiap-siap pergi dari rumah. Ketika itu suaminya pulang. Perempuan itu pun menangis dan berteriak-teriak: “Kalau memang aku bersalah, mengapa kamu tidak menanyaiku atau memberiku hukuman?” Perempuan itu terus saja menangis, sambil berlari dan berlari menuju rumah kedua orang tuanya…
Keesokan harinya, sang suami pun mendatangi kepala kampung, memberitahu bahwa isterinya kabur dari rumah. Kepala kampung berkumpul bersama para pembesar dan pemuka kampung lainnya. Mereka pun mendatangi kedua orang tua perempuan itu dan meminta kembali mahar yang telah diterima si perempuan dari suaminya.***

Mike Clinson adalah cerpenis Sudan, kelahiran 1955, tinggal di Texas. Cerpen ini diterjemahkan dari judul asli Al-Athfal Jawasis Jayyidun.

Misran adalah alumnus Jurusan Bahasa dan Sastra Arab, Univ. Al-Azhar, Kairo. ]

Dewa Thor Kehilangan Palunya

Cerita ini diambil dari kiansavero.multiply.com

Bangsa Viking percaya bahwa dunia yang dihuni itu adalah sebuah pulau yang selalu terdapat ancaman dari luar. Mereka menyebut bagian ini disebut midgard, didalamnya terdapat Asgard tempat para dewa dan diluarnya adalah Utgard tempat para raksasa yang curang dan jahat. Bangsa Utgard ingin sekali menghancurkan Midgard yang tujuannya adalah menguasai dunia, cara paling ampuh adalah dengan menculik dewi Freyja (dewi Kesuburan).

cerita itu seperti yang di sampaikan dalam puisi Eddic "Syair Thrym". Yang menceritakan mengenai Thor yang kehilangan palunya saat bangun dari tidurnya.Bangsa Nowegia percaya bahwa Thor mengendarai sebuah kereta yang ditarik dua ekor kambing melintas angkasa, ketika mengayunkan palunya terdengar guntur dan halilintar. "Guntur" dalam bahasa Norwegia "Thor-Don' yang artinya Raungan Thor. Diwilayah Skandinavia Thor menjadi salah satu dewa paling penting, karena bahwa hujan selalu ada hubungannya dengan Thor. Bagi bangsa Viking Thor dipuja sebagai Dewa Kesuburan.

Kembali ke cerita, menyadari palunya hilang Thor marah dengan wajah memerah dan gemetar Thor menemui Loki. Bersama Loki, Thor menemui Freyja untuk meminjam sayap Freja agar Loki dapat terbang ke Jotunheim, Negeri para raksasa, dan memastikan apakah palu Thor di Curi oleh mereka. Di Jotunheim Loki bertemu dengan Thym, raja para raksasa, Thyrm membual bahwa palu Thor memang telah mereka curi dan disembunyikan di tujuh lapis bawah bumi, dia juga menambahkan, palu itu akan dikembalikan jika Freyja mau menjadi mempelai wanita Thym. jika hal tersebut dibiarkan tidak akan ada lagi ladang yang tumbuh subur dengan tanaman, para wanita tidak akan lagi bisa memiliki anak (keturunan).

mendengar penjelasan itu Loki kembali ke Asgard, dan meminta Freyja mengenakan baju pengantin dan menjadi mempelai Thym. Freyja marah. tetapi Dewa Heimdall memiliki gagasan untuk mengganti Freyja dengan Thor, dimana Thor harus mengenakan pakaian mempelai wanita.dengan Loki sebagai pengiring pengantinnya.

Dari cerita ini ada keunikan, dan sedikit gurauan,yang pertama, pada saat para dewa sampai ke Jotunheim, selama pesta pernikahan itu berlangsung Freyja (Thor yang sedang menyamar) menyantap seekor sapi utuh dan delapan ekor ikan salmon. Thym tentunya curiga, namun Loki berusaha mengalihkan bahaya, Loki mengatakan kepada Thym bahwa Freyja tidak mau makan selama seminggu untuk menanti pernikahan ini. kedua, pada saat Thym mengangkat kerudung Freyja, Thym melihat mata merah Thor, lagi-lagi loki menyelamatkan Thor dengan mengatakan bahwa Freyja tidak bisa tidur selama seminggu menanti perhelatan ini. mendengar penjelasan itu, Thym memerintahkan untuk meletakkan palu Thor dipangkuan mempelai wanita. ketika palu itu diletakkan di pangkuan Freyja (Thor) tawa Thor membahana, mula-mula Thor membunuh Thym, kemudian keluarganya dan para raksasa lainnya. Yang akhir cerita ini berakhir dengan kebahagiaan. dan kedamaian seluruh negeri.

Kamis, 29 Oktober 2009

Sebuah Mata Yang Mencintaimu

Cerita ini terinspirasi dari teman saya

Cerita ini mengisahkan tentang seorang pria yang jatuh cinta kepada seorang wanita yang buta. Bukan karena harta ataupun kecantikannya, tetapi ia sangat menyayangi wanita tersebut dengan hatinya. Tapi apakah yang akan terjadi dengan keduanya? Silahkan membacanya

Sebuah Mata Yang Mencintaimu

      Tersebutlah seorang pria yang bernama Veron. Sosoknya sangat tampan dan ia dilahirkan dalam keluarga yang begitu kaya raya. Tak hanya itu, Veron dikenal sebagai orang yang sangat baik hati. Dilingkungan tempat ia tumbuh, banyak wanita yang menginginkan dirinya. Mulai dari yang beumur lebih muda darinya sampai dengan wanita yang lebih tua darinya. Tapi, Veron merasa biasa saja dengan keadaan itu. Dia lebih fokus dengan kehidupannya sebagai gitaris dala sebuah band yang agak ternama saat itu.
      Suatu hari, Veron dan keluarganya sedang berkumpul dan saling berbagi cerita. Veron tampaknya berbeda dari biasanya. Dia tampak berdiam diri dan kurang menikmati perbincangan saat itu.

"Nak, apa yang engkau pikirkan? kok seharian hanya berdiam diri saja? Kalau lagi ada masalah, mungkin kami disini bisa membantu masalah yang engkau pikirkan", Tanya sang Ibu
"Tidak ada ibu. Aku hanya sedang memikirkan masa depan band aku nantinya. Selain itu ndak ada kok!", jawabnya
      Perbincanganpun berlanjut terus, tetapi Veron tetap diam. Dalam hatinya ia sangat bingung bagaimana cara mengungkapkan masalahnya ini didepan seluruh keluarganya. Veron menyukai seorang gadis buta yang tinggal di depan rumahnya.
Tapi, gadis itu buta! Veron membayangkan betapa marahnya kedua orang tuanya ketika kejadian ini diceritakan kepada mereka.  Dengan keadaan saat ini, Veron terpaksa memendam perasaannya itu.
       Keesokan harinya, Veron termenung duduk menyendiri dihalaman rumahnya. Ia menunggu gadis itu keluar rumah dan ingin menyapa gadis tersebut. Berjam-jam ia menunggu, tapi gadis itu tak kunjung keluar. Karena ia penasaran, Veron memberanikan diri untuk kerumah gadis tersebut. Sesampainya disana, Veron mengetuk pintu dan hadirlah sosok wanita buta yang dimaksud. Rupanya sangat anggun.

Dia bertanya,"Selamat siang. Anda ada perlu apa ya?"
"saya kesini untuk bertemu kamu. Biasa silaturahmi antartetangga. Rumahku tepat di depan rumahmu Loh! Jadi aku hanya mau mampir aja", Jawab Veron
"Oh iya, silahkan masuk. Maaf ruang tamunya masih berantakan, maklum baru pindah", balasnya
"Nggak apa-apa kok. Ngomong-ngomong nama kamu siapa?" tanya Veron
"Perkenalkan nama aku Ria, Kalau kamu siapa?" tanyanya kembali
"Namaku Veron. Senang bisa mengenalmu, soalnya disekitar sini jarang-jarang ada orang yang seumuran aku", jawabnya

Pembicaraan berlanjut dan berlanjut terus. Hari ini Veron sangat senang karena ia telah mengetahui nama gadis tersebut. Diingatnya dalam hati dan ia berjanji untuk menjaganya selama ia masih hidup.

Hari berganti hari, bulanpun berganti bulan. Kini Veron telah berpacaran dengan Ria. Walaupun ia harus diusir dari rumah karena kedua orang tuanya tidak menyetujui hubungan itu. Suatu hari, Ria bertanya pada Veron

"Ver, aku pengen deh punya mata seperti kamu. Aku pengen lihat yang ada didunia ini terutama kamu. Aku penasaran sebenarnya selama ini orang yang kucinta itu seperti apa? Gimana kalau aku operasi saja?" Kata Ria pada Veron
"Itu terserah kamu aja. Tapi aku juga takut kalau saja operasinya gagal" balas Veron
"Itukan belakangan pikirnya, yang penting kita berdoa dulu. Kalau nanti aku dah bisa melihat, aku pengen deh menikah sama kamu" kata Ria
"Aku juga mau menikah sama kamu. Saya janji kok kalau nanti saya akan melamarmu" sahutnya

Pembicaraan itu berlanjut, bukan hanya sekedar pembicaraan biasa, tapi pembicaraan itu menjadi kenyataan.

Suatu hari, Ria bersiap-siap untuk manjalani operasi. Sebelumnya ia berkata pada Veron bahwa ia akan segera menikah jika ia sudah bisa melihat. Inilah saat dimana semua akan berubah. Ria masuk keruang operasi, Veron menunggunya diluar. Tampak wajah cemas menyelimuti perasaan Veron. Ia bermondar-mandir dan bingung harus berbuat apa, hanya berdoa dan terus berdoa yang ia lakukan. 30 menit terlewati, dokternya belum juga keluar dengan kabar yang diharapkan Veron. Ia terus setia dan menunggu. Tiba-tiba dokter keluar dengan sangat panik. Ia bergegas menuju kearahku dan berkata jika kondisi Ria sangat buruk. Ia akan kehilangan nyawanya jika tak ada orang yang mau mengorbankan sepasang matanya. Tanpa berpikir panjang Veron langsung mengajukan diri untuk menolong Ria. Veron mengorbankan sepasang mata yang ia miliki untuk Ria. Kini, mata Veron sudah tiada, tapi ia tetap menunggu Ria didepan ruang operasi.

Setelah menunggu sekitar 1 jam, Dokter keluar dari ruangan sambil membawa Ria dan menuntunnya hingga sampai ketempat Veron. Ria sangat heran dan kecewa, ia melihat Veron yang merupakan lelaki buta yang selama ini menjadi pacarnya.

"Kok kamu ngggak pernah bilang kalau kamu juga buta? Aku menyesal menyayangi orang buta sepertimu! Aku tak mau lagi bersamamu! Pergi sana!"kata Ria

Veron putus asa dan pergi dari tempat itu. Ia frustasi, menyebabkan dampak yang buruk dalam perilaku kehidupannya. Akhir-akhir ini ia sering minum dan suka mengemis. Ia menjadi gelandangan dan tak berdaya. Ia merasa bodoh yang selama ini mencintai orang yang tidak benar-benar menyayanginya.

Suatu hari pada tanggal 14 September 2010 terdengarlah kabar duka bahwa Veron tewas tertabrak Truk saat ia masih mengemis. Keluarganya sangat sedih, termasuk Ria. Ria merasa bersalah atas kejadian itu. Ia terus menangis sampai ia terlambat menyadari jika ada sesuatu yang berbeda di kamar tidurnya. Ia melihat sebuah amplop merah dijendela kamarnya. Disurat itu tertulis 13 September 2010. Ia tercengang dan merasakan firasat buruk. Tanggal surat itu menunjukkan 1 hari sebelum Veron meninggal. Ia membukanya dan ia menemukan isi seperti berikut.

Untuk Ria,
Aku sungguh menyesal menyayangimu selama ini. Kau tidak menepati janji yang kau ucapkan kepadaku padahal aku sangat senang bisa dekat dengan dirimu. Kalau kamu benar-benar masih sayang kepadaku, temui aku sekarang juga. Jika tidak, biarkanlah hidupku ini berakhir hingga kau tau jika aku menyayangimu.
Tahukah engkau, biarlah kau tak menepati janjimu itu tapi aku sangat senang karena kau bisa tersenyum melihat dunia dengan kedua mataku.

Ria sangat kaget dan tak berhenti menyesal. Air matanya terus menetes dan menetes. Ia tak pernah tau jika selama ini, ia melihat dunia dengan mata yang diberikan Veron. Sungguh menyedihkan.

Minggu, 25 Oktober 2009

Ketika Kami Tak Cocok Lagi

Cerita ini diambil Disini

Suami saya adalah seorang insinyur, saya mencintai sifatnya yang alami dan saya menyukai perasaan yang hangat yang muncul ketika saya bersender di bahunya yang bidang. Tiga tahun dalam masa kenalan dan bercumbu, sampai sekarang, dua tahun dalam masa pernikahan, harus saya akui, saya mulai merasa lelah dengan semua itu.

Alasan saya mencintainya pada waktu dulu, telah berubah menjadi sesuatu yang melelahkan. Saya seorang wanita yang sentimentil dan benar-benar sensitif serta berperasaan halus. Saya merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak kecil yang menginginkan permen. Dan suami saya bertolak belakang dari saya, rasa sensitifnya kurang, dan ketidakmampuannya untuk menciptakan suasana yang romantis di dalam pernikahan kami telah mematahkan harapan saya tentang cinta.

Suatu hari, akhirnya saya memutuskan untuk mengatakan keputusan saya kepadanya. Saya menginginkan perceraian.

“Mengapa?” dia bertanya dengan terkejut.

“Saya lelah. Terlalu banyak alasan yang ada di dunia ini,” jawab saya.

Dia terdiam dan termenung sepanjang malam dengan rokok yang tidak putus-putusnya. Kekecewaan saya semakin bertambah. Seorang pria yang bahkan tidak dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang saya bisa harapkan darinya? Dan akhirnya dia bertanya, “Apa yang dapat saya lakukan untuk mengubah pikiranmu?”

Seseorang berkata, mengubah kepribadian orang lain sangatlah sulit, dan itu benar. Saya pikir, saya mulai kehilangan kepercayaan bahwa saya bisa mengubah pribadinya. Saya menatap dalam-dalam matanya dan menjawab dengan pelan, “Saya punya pertanyaan untukmu. Jika kamu dapat menemukan jawabannya yang ada di dalam hati saya, mungkin saya akan mengubah pikiran. Seandainya, katakanlah saya menyukai setangkai bunga yang ada di tebing gunung, dan kita berdua tahu, jika kamu memanjat gunung itu, kamu akan mati. Apakah kamu akan melakukannya untuk saya?”

Dia berkata, “Saya akan memberikan jawabannya besok.”

Hati saya langsung gundah mendengar responnya. Keesokan paginya, dia tidak ada di rumah, dan saya melihat selembar kertas dengan coret-coretan tangannya, di bawah sebuah gelas yang berisi susu hangat, yang bertuliskan:

“Sayang, Saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu. Tetapi izinkan saya untuk menjelaskan alasannya.”

Kalimat pertama ini menghancurkan hati saya. Saya mencoba untuk kuat melanjutkan membacanya kembali…

“Kamu hanya bisa mengetik di komputer dan selalu mengacaukan program di PC-nya dan akhirnya menangis di depan monitor. Lalu saya harus memberikan jari-jari saya untuk memperbaiki programnya.

“Kamu selalu lupa membawa kunci rumah ketika kamu keluar rumah, dan saya harus memberikan kaki saya supaya bisa masuk mendobrak rumah, membukakan pintu untukmu.

“Kamu suka jalan-jalan ke luar kota tetapi selalu nyasar di tempat-tempat baru yang kamu kunjungi: saya harus memberikan mata untuk mengarahkanmu.

“Kamu selalu pegal-pegal pada waktu ‘tamu’ kamu datang setiap bulannya: saya harus memberikan tangan saya untuk memijat kakimu yang pegal.

“Kamu senang diam di dalam rumah, dan saya kuatir kamu akan jadi ‘aneh’. Lalu saya harus memberikan mulut saya untuk menceritakan lelucon dan cerita-cerita untuk menyembuhkan kebosananmu.

“Kamu selalu menatap komputer dan itu tidak baik untuk kesehatan matamu. Saya harus menjaga mata saya sehingga ketika nanti kita tua, saya masih dapat menolong mengguntingkan kukumu dan mencabuti ubanmu. Saya akan memegang tanganmu, menelusuri pantai, menikmati sinar matahari dan pasir yang indah. Menceritakan warna-warna bunga kepadamu yang bersinar seperti wajah cantikmu….

“Juga sayangku, saya begitu yakin ada banyak orang yang mencintaimu lebih dari cara saya mencintaimu. Tapi saya tidak akan mengambil bunga itu lalu mati….”

Air mata saya jatuh ke atas tulisannya dan membuat tintanya menjadi kabur dan saya membaca kembali…

“Dan sekarang sayangku, kamu telah selesai membaca jawaban saya. Jika kamu puas dengan semua jawaban ini, tolong bukakan pintu rumah kita, saya sekarang sedang berdiri di sana dengan susu segar dan roti kesukaanmu….”

Saya segera membuka pintu dan melihat wajahnya yang dulu sangat saya cintai. Dia begitu penasaran sambil tangannya memegang susu dan roti. Saya tidak kuat lagi dan langsung memeluknya dan rebah di bahunya yang bidang sambil menangis….